Kelompok Tani Kakao

Sejarah desa Kemloko dimulai pada masa Kerajaan Mataram dimana dari Kitab Negara Kertagama kita mengetahui bahwa

pada jaman Kerajaan Mataram tepatnya pada masa Pemerintahan Sampeyan dalem ingkang Sinuwum Kanjeng Sunan Prabu Amangkurat Agung mempunyai putra raden Nganten Darmo menggolo atau Pateh Nilo Srobo I diteruskan Raden Nganten Rogo Noyo, diteruskan Raden Nganten Cokro Yudo, Raden Tumenggung Nilo Srobo II, Raden Joyo Mustopo, sampai turun Raden Nganten Wiro Sentono atau Mbah Onggo Wongso makamnya didusun Kemloko diteruskan putranya bernama Raden Kasantawi yang dimakamkan didusun Kemloko.

Masa Awal Berdiri

 Raden Nganten Wiro Sentono atau mbah Onggo Wongso bersama mbah Ngalimo, Mbah Kasan Rais Babat langsir dialas yang lebat wingit dan gawat serta banyak tumbuh pohon besar yang tidak terawat dan disitulah banyak pohon Mloko maka oleh Mbah Kasantawi dan Mbah Ngalimo daerah tersebut diberi nama desa Kemloko. Diantara kesaktian dan karomah Mbah Ngalimo yaitu ketika cucunya meminta buah jambu, mbah Ngalimo pada pagi hari langsung menanam jambu dan sore harinya phon jambu sudah berbuah serta manis buahnya. Sedang yang babat didesa Kuwut adalah Mbah Kasan Rais. Nama Kuwut diambil dari nama dari sebuah pohon Kruwut yang ditemukan oleh Mbah Kasan Rais.

Para tokoh pendiri

Mbah Wiro sentono Onggo Wongso, Mbah Ngalimo, serta Mbah Kasan Rais adalah bala tentara Pangeran Diponegoro yang gagah berani bersenjatakan keris, naik kuda putih, serta seorang ulama besar. Pada tahun 1825 sampai dengan 1830 masa pemberontakan Pangeran Diponegoro mengusir penjajahan Hindia belanda disamping babat desa Kemloko bersama Mbah Ngalimo dia juga membawa Bende dari kertaon Mataram untuk memanggil prajurit perang Mataram.

Reog Bulkiyo

Bende dari kertaon Mataram yang di gunakan untuk memanggil prajurit perang Mataram tersebut sampai sekarang masih ada dan tersimpan, terawat,digunakan untuk menghibur masyarakat dengan Seni Tradisionil Reyog Bulkio yang berpakaian merah Putih dimainkan enam prajurit , dua yang berperang dan satu pembawa bendera /Rontek serta memakai Udeng Gilik Bawang Sebungkul yang digambarkan dalam peperangan hawa nafsu yaitu Pembawa Bendera /Rontek terlukis Raja raksasa Dosomuka Rahwana Raja dari Ngalengko Dirojo yang dikalahkan oleh seekor kera putih Raden Anoman atau Begawan Kapiworo yang menjadi pendeta diKendali Sodo, karena kegigihan dan kejujurannya Raden Anoman seekor kera bisa mengalahkan Rahwana atau Dosomuko.
           Sampai sekarang kesenian Reyog Bulkio masih ada dan dibawah asuhan Mbah Supangi dari Dusun Kemloko. Dalam perkembangannya Reyog Bulkio sering pentas dalam acara pemerintahan dalam rangka menyambut tamu kenegaraan di Pendopo, Candi Penataran dan didesa lain seperti hajatan pernikahan atau hari besar nasional, ulang tahun kemerdekaan dan hari besar islam. Adapun prajurit Mataram (Begelenan) yang hijrah keblitar tepatnya didesa Kemloko kebanyakan rumahnya besar dan dilengkapi balai pertemuan keluarga dan dihalaman rumahnya ditanami pohon sawo serta dihiasi seekor burung perkutut. Rumah Mbah Parto Rejo, Mbah Umar, Dullah Karjani, dan masih banyak lagi. Desa Kemloko berdiri sejak tahun 1897 dibawah Kepala Desa Pertama yang bernama Codikoro. Desa Kemloko berkembang pesat sampai saat ini baik dibidang pertanian, industri kecil (industri rumah tangga), seni dan budaya, pendidikan, kesehatan , serta keagamaan.

Info tambahan

  • Kegiatan: 1
  • Tempat: Kantor Desa Kemloko
  • Mulai Pukul: No Data Entry
  • Tanggal Mulai: 2017-06-09
  • Alamat: No Data Entry
Tanggul Widodo

| ADMIN

Masuk untuk memberikan komentar
Langganan Berita
Gabung Geub WA Kami
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…